Viral Yakuza Maneges Tempel Stiker di Lapak PKL, Pendiri Bantah Pungli

Nasional

KEDIRI – Sebuah aksi yang dilakukan sekelompok orang yang mengaku sebagai anggota organisasi Yakuza Maneges Kediri menjadi perbincangan hangat dan viral di berbagai platform media sosial belakangan ini. Dalam rekaman video yang beredar luas, terlihat sejumlah individu mendatangi deretan lapak Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjejer di kawasan Jalan Dhoho, Kota Kediri, Jawa Timur. Mereka tampak berkeliling dari satu lapak ke lapak lainnya, berinteraksi dengan para pedagang, dan kemudian menempelkan stiker bertuliskan nama organisasi tersebut pada bagian gerobak, tenda, atau tempat berjualan para pedagang.

Aksi penempelan stiker ini segera memicu beragam tanggapan dari masyarakat maupun warganet. Banyak pihak yang menilai kegiatan tersebut memiliki kemiripan dengan praktik penandaan wilayah atau lapak yang kerap dikaitkan dengan upaya pungutan liar (pungli) atau pemungutan biaya tidak resmi oleh kelompok-kelompok tertentu. Dugaan ini muncul mengingat fenomena serupa di sejumlah daerah seringkali diikuti dengan kewajiban pembayaran sejumlah uang dari para pedagang demi keamanan atau izin berjualan. Di kolom komentar media sosial, banyak warganet mempertanyakan maksud dan tujuan sebenarnya di balik pemasangan stiker tersebut, serta khawatir hal ini akan membebani para pedagang kecil yang berpenghasilan pas-pasan.

Berdasarkan video yang beredar, para anggota yang datang tampak berbicara dengan nada santai dan akrab kepada para pedagang sebelum menempelkan stiker. Tidak terlihat adanya unsur kekerasan atau tekanan fisik dalam proses tersebut, namun keberadaan stiker organisasi yang ditempel di tempat usaha publik tetap menimbulkan tanda tanya besar di mata masyarakat. Kawasan Jalan Dhoho sendiri merupakan salah satu pusat keramaian dan ikon wisata kuliner Kota Kediri, sehingga keberadaan para PKL di sana sangat mendukung perekonomian warga setempat.

Merespons keramaian dan dugaan yang berkembang di masyarakat, pendiri sekaligus pembina Yakuza Maneges, Den Gus Thuba atau yang akrab disapa DGT, memberikan penjelasan tegas dan membantah keras segala tudingan yang menyebutkan bahwa kegiatan tersebut berkaitan dengan praktik pungutan liar. Melalui pernyataannya, Gus Thuba menegaskan bahwa aksi penempelan stiker itu murni merupakan bentuk perkenalan organisasi mereka kepada masyarakat luas, khususnya kepada para pelaku usaha kecil yang beraktivitas di kawasan Jalan Dhoho.

“Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pungli atau pemungutan biaya apa pun. Kami datang hanya untuk bersilaturahmi, berkenalan, dan menyapa para pedagang yang sudah lama menjadi tulang punggung perekonomian di sini. Stiker yang kami tempel hanyalah identitas organisasi, bukan tanda bahwa lapak ini sudah dikuasai atau harus membayar sesuatu kepada kami,” ujar Gus Thuba saat dikonfirmasi awak media, Minggu (23/5/2026).

Lebih lanjut, Gus Thuba menjelaskan bahwa dalam kegiatan tersebut, pihaknya tidak pernah memaksa atau mewajibkan satu pun pedagang untuk menerima penempelan stiker. Jika ada pedagang yang berkeberatan atau tidak ingin stiker organisasi tersebut terpasang di lapaknya, pihaknya akan langsung menghormati keputusan itu dan tidak akan memaksakan kehendak. Ia juga menekankan bahwa Yakuza Maneges dibentuk dengan tujuan positif, yakni mengumpulkan pemuda-pemuda Kediri untuk berbuat baik, menjaga kerukunan, dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar.

Bahkan, kata Gus Thuba, ke depannya organisasi yang dipimpinnya justru memiliki rencana untuk mengadakan serangkaian kegiatan sosial guna membantu para pedagang kaki lima di kawasan Jalan Dhoho. Salah satu program yang sudah direncanakan adalah pembagian sembako kepada para pedagang yang membutuhkan, sebagai wujud kepedulian dan dukungan terhadap keberlangsungan usaha mereka.

“Kami ingin hadir sebagai mitra dan sahabat para pedagang, bukan menjadi beban. Rencananya, dalam waktu dekat kami akan berbagi sembako dan bantuan lain yang bisa meringankan beban mereka. Kami juga siap membantu menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan jika memang diperlukan, semuanya atas dasar sukarela dan saling menghormati,” tambahnya.

Sementara itu, tanggapan dari para pedagang di lokasi pun beragam. Sebagian pedagang mengaku merasa tenang karena interaksi yang dilakukan terasa bersahabat, namun tidak sedikit pula yang masih merasa khawatir dengan dampak jangka panjang dari keberadaan stiker tersebut. Mereka berharap agar ke depannya tidak ada kewajiban atau permintaan sumbangan yang datang belakangan yang justru akan memberati usaha mereka.

Pihak berwenang dan pemerintah daerah Kota Kediri pun diketahui mulai memantau perkembangan situasi ini. Pemerintah kota menegaskan akan menindak tegas segala bentuk praktik pungutan liar atau tindakan yang mengganggu ketertiban umum dan kenyamanan berusaha warga masyarakat. Sebaliknya, jika kegiatan tersebut murni bersifat sosial dan positif, maka hal itu tentu saja sangat didukung demi kemajuan bersama.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat masih menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai peran dan keberadaan organisasi Yakuza Maneges di tengah masyarakat Kota Kediri. Gus Thuba berjanji akan terus bersikap transparan dan terbuka, serta membuktikan melalui tindakan nyata bahwa organisasi yang ia dirikan bertujuan untuk kebaikan dan kemaslahatan warga Kediri, tanpa ada kepentingan pribadi maupun kelompok yang merugikan orang lain.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!