Ratusan Siswa 12 Sekolah Tembok Dukuh Surabaya Keracunan Massal Usai Santap Menu MBG, Makanan Ditarik & Akan Ada Sanksi Tegas

Nasional

Surabaya, 12 Mei 2026 – Insiden memprihatinkan terjadi di kawasan Tembok Dukuh, Surabaya, Jawa Timur, di mana sebanyak 200 siswa yang berasal dari 12 sekolah berbeda dikonfirmasi mengalami keracunan massal. Kejadian ini bermula setelah para siswa menyantap menu daging dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan di lingkungan sekolah masing-masing. Menanggapi hal tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku pengelola makanan telah mengambil langkah cepat dengan menarik seluruh sisa makanan dan menu serupa yang masih tersedia di lokasi layanan guna mencegah risiko meluasnya dampak buruk.

Berita mengenai keracunan ini sontak menimbulkan kekhawatiran luas di kalangan orang tua murid, pihak sekolah, maupun masyarakat umum. Para siswa yang menjadi korban dilaporkan mengalami berbagai gejala kesehatan seperti mual, muntah, pusing, nyeri perut, hingga demam tidak lama setelah mengonsumsi menu daging tersebut. Segera setelah adanya laporan dari pihak sekolah dan orang tua, tim medis dan petugas kesehatan dikerahkan ke lokasi maupun ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk memberikan penanganan medis yang diperlukan para siswa.

Menanggapi insiden serius ini, Ketua Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, memberikan tanggapan resmi saat ditemui di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (11/5/2026). Emil memastikan bahwa penanganan terhadap insiden ini sudah berjalan dan melibatkan tim teknis dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur yang turun langsung ke lapangan untuk meninjau situasi dan mengambil langkah penanganan yang tepat.

“Kadinkes Jatim Dokter Erwin lagi ngecek, bagaimana pertama penanganan dan situasinya di lokasi maupun di tempat penanganan korban. Jadi mohon waktu, hari ini kami akan beri informasi terbaru yang lebih lengkap dan rinci terkait perkembangan penanganan insiden itu,” ujar Emil di hadapan awak media.

Emil menegaskan, kejadian di mana ratusan siswa mengalami keracunan bukanlah hal yang sepele dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia menekankan bahwa pihaknya akan memastikan ada sanksi tegas yang diberikan kepada pihak SPPG terkait, yakni lembaga yang bertanggung jawab atas proses pengolahan, penyajian, dan penyaluran makanan program MBG tersebut hingga menyebabkan insiden keracunan massal. Pemberian sanksi ini dimaksudkan agar memberikan efek jera yang kuat sekaligus menjadi dasar evaluasi menyeluruh demi mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.

“Harus ada sanksi tegas, kewenangan pemberian sanksi tentu dilakukan secara kolektif oleh Badan Gizi Nasional (BGN), dan nantinya BGN yang akan memberikan sanksi kepada SPPG yang mengalami insiden-insiden seperti ini. Apalagi jumlah korban yang terdampak sangat besar, mencapai ratusan siswa, tentu tanggung jawabnya juga besar,” tegas Emil.

Lebih lanjut Emil menjelaskan bahwa ke depannya, efektivitas dari penerapan sanksi tersebut juga akan terus dievaluasi. Pihak berwenang akan menilai apakah ada perbaikan nyata dalam sistem pengolahan, kebersihan, dan keamanan pangan di lembaga terkait setelah sanksi dijatuhkan. Seluruh data resmi terkait insiden, penyebab keracunan, hingga proses penindakan dan sanksi yang diberikan nantinya akan dipublikasikan secara langsung oleh pihak BGN agar transparan dan diketahui publik.

“Efektivitas penerapan sanksi akan terus kami evaluasi, apakah ada perbaikan kualitas dan standar keamanan atau tidak? Semua data resminya akan diekspose langsung oleh BGN ke masyarakat agar terbuka dan jelas,” tambahnya.

Meski penindakan dan penyelidikan terus dilakukan, Emil menegaskan bahwa fokus utama Satgas MBG saat ini adalah keselamatan dan kesehatan para siswa korban keracunan. Ia memastikan seluruh sumber daya yang ada akan dikerahkan guna menjamin para korban mendapatkan penanganan medis yang maksimal, pelayanan terbaik, serta pemulihan kesehatan yang cepat dan tuntas.

“Kita fokus khusus untuk kasus yang ada di Surabaya ini. Kita pastikan penanganan terhadap korban semaksimal mungkin dan dilayani sebaik-baiknya sampai mereka benar-benar pulih dan sehat kembali. Keselamatan anak-anak adalah prioritas utama kami,” tandas Emil.

Hingga berita ini diturunkan, proses pengecekan sampel makanan, penyelidikan penyebab keracunan, serta penanganan medis terhadap siswa korban masih berlangsung intensif. Pihak berwenang berjanji akan terus memantau perkembangan dan menyampaikan informasi terkini kepada masyarakat maupun orang tua murid agar tetap tenang dan percaya bahwa masalah ini akan diselesaikan dengan serius dan tuntas. Insiden ini pun menjadi sorotan penting bagi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis agar standar keamanan pangan dijaga ketat di setiap tahapannya, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga penyajian ke tangan para siswa.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!