Kisah Perjuangan 40 Tahun: Suriyeh, Nenek Penjual Enting-enting yang Besarkan 4 Anak Sejak Dini Hari

Nasional

Pamekasan – Malam semakin larut, aktivitas kendaraan dan lalu lintas di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, mulai terlihat lengang. Suasana hening menyelimuti jalanan pada Senin dini hari, 20 April 2026. Namun, di tengah kesunyian itu, masih ada sosok yang setia bertahan.

Seorang perempuan renta bernama Suriyeh (65) terlihat duduk tegar di atas trotoar. Wajahnya yang keriput menampakkan ketabahan luar biasa, matanya penuh harap menatap jalanan, berdoa agar dagangan kue enting-enting miliknya ludes terjual. Lelah dan letih bukanlah penghalang baginya, karena di pundaknya terbeban tanggung jawab besar yang telah ia pikul selama hampir setengah abad.

Dunia yang Tiba-tiba Gelap

Kisah pilu ini bermula puluhan tahun lalu. Kehidupan Suriyeh berubah drastis saat suaminya, Puhriman, meninggal dunia di usia yang masih terbilang muda. Saat itu, Suriyeh baru berusia 25 tahun.

Dunia seakan runtuh dan gelap gulita baginya. Kebahagiaan keluarga terasa direnggut begitu cepat. Saat itu, ia harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan empat orang anak sendirian: Busiri, Marham, Siti Zainab, dan Abdul Hakim.

“Keempat anak saya masih kecil semua. Anak yang terakhir baru berusia 40 hari, sementara yang tertua baru berumur 5 tahun,” kenang Suriyeh dengan nada yang dalam.

Kepedihan itu sempat membuatnya nyaris putus asa. Namun, tangisan mungil keempat buah hatinyalah yang membuatnya sadar dan kembali kuat. Ia sadar, ia adalah satu-satunya harapan mereka untuk bisa bertahan hidup. “Saya tidak boleh menyerah, mereka harus makan dan hidup,” batinnya saat itu.

Berjuang dari Sore hingga Dini Hari

Tanpa membuang waktu dan tak mau larut dalam kesedihan, Suriyeh mulai mengangkat dagangnya. Ia mulai berjualan kacang dan enting-enting, awalnya dengan menitip atau membantu tetangga.

Demi menghidupi anak-anaknya, ia rela bekerja keras tanpa kenal waktu. Setiap hari, ia berangkat dari rumah saat sore menjelang malam, dan baru pulang kembali ke pangkuan keluarga saat dini hari tiba, tepat pukul 03.00 WIB. Selama berjualan, anak-anaknya dititipkan kepada tetangga yang baik hati.

“Saya berangkat sore dari rumah, dini hari pukul 03.00 WIB baru pulang,” tutur nenek tangguh ini.

Dari setiap satu bungkus enting-enting yang terjual, ia hanya mendapatkan keuntungan sebesar Rp 500. Angka yang terlihat sangat kecil, namun bagi beliau itu adalah harapan untuk bisa membeli beras dan lauk pauk bagi keluarga. “Untuk makan besok saya harus jualan malam harinya. Begitu secara terus-menerus,” ucapnya.

Diusir Satpol PP hingga Pindah 5 Kali

Perjuangan Suriyeh tidak hanya soal lelah fisik, tapi juga menghadapi kerasnya kehidupan. Seiring berjalannya waktu, ia kerap kali harus berpindah tempat berjualan karena adanya penertiban dari Satpol PP.

“Di sini tempat kelima saya pindah. Dulu sering diusir Satpol PP. Kondisi itu semakin menyulitkan,” ungkapnya.

Hidup melarat dan penuh keterbatasan sudah menjadi makanan sehari-hari. Kadang dagangan sepi, ia harus membawa pulang barang yang tidak laku. Namun, semangatnya tak pernah padam. Ia terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mencari rezeki dengan sabar dan ikhlas.

Bukti Ketangguhan Hati

Waktu terus bergulir, air mata dan keringat akhirnya membuahkan hasil. Kini, 40 tahun telah berlalu. Usianya sudah senja, namun hasil perjuangannya nyata.

Keempat anaknya kini sudah dewasa, bekerja, dan memiliki keluarga masing-masing. Beban di pundaknya kini jauh lebih ringan. Meski begitu, kebiasaan berjualan hingga dini hari seolah sudah menjadi bagian dari dirinya yang sulit dilepaskan.

“Sekarang mereka sudah berkeluarga dan punya kerja semua. Sejak kecil saya berusaha menghidupi mereka tanpa bantuan siapa pun,” tutur Suriyeh dengan bangga dan penuh kasih sayang.

Suriyeh telah membuktikan dirinya sebagai perempuan tangguh yang luar biasa. Dengan tangan keriput dan hati yang sabar, ia berhasil mengantarkan anak-anaknya menjadi orang yang sukses dan mandiri.

Di penghujung cerita, doa tulus keluar dari bibirnya, “Saya berharap semua anak saya hingga cucu saya lancar rezeki dan sukses,” imbuhnya.

Kisah Nenek Suriyeh menjadi inspirasi bahwa di balik kesederhanaan dan keterbatasan, tersimpan kekuatan cinta seorang ibu yang mampu memindahkan gunung dan melewati masa-masa tergelap kehidupan.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!