
SIDOARJO – Kejadian unik dan nyeleneh kembali menghiasi media sosial. Kali ini, sorotan publik tertuju pada sebuah perumahan di kawasan Sidokare, Sidoarjo, Jawa Timur, yang tengah dihebohkan dengan ulah salah satu warganya yang dianggap terlalu berlebihan.
Berkat rekaman kamera pengawas (CCTV) yang beredar luas, terungkaplah aksi aneh seorang warga yang tiba-tiba bertingkah layaknya “raja” atau penguasa tunggal di jalanan kompleks perumahan. Perilaku ini tentu saja membuat tetangga lain merasa geram sekaligus geli.
Memasang Palang, Persempit Jalan Seenaknya
Insiden bermula dari inisiatif sepihak yang sangat menyusahkan dan mengganggu kenyamanan bersama. Entah mendapat ilham atau “wangsit” dari mana, pria tersebut dengan sangat percaya diri melakukan blokade jalan.
Ia memasang berbagai jenis penghalang dan palang pintu di badan jalan yang jelas-jelas merupakan fasilitas umum. Aksi yang dianggap keterlaluan ini tidak berhenti di situ.
Sang warga bahkan dengan sengaja menggeser pembatas tersebut semakin ke tengah jalan. Akibatnya, lebar jalan yang seharusnya bisa dilalui dua arah menjadi sangat sempit dan menyempit drastis. Ruang gerak kendaraan menjadi sangat terbatas, sehingga mobil dan motor lain kesulitan untuk melintas dengan aman.
Alasan Kocak: Itu Jalan Saya!
Yang membuat peristiwa ini semakin menjadi-jadi dan memancing tanya adalah alasan yang dikemukakan oleh sang pelaku. Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal tersebut, jawabannya sukses membuat tetangga menggelengkan kepala tak percaya.
Jalanan yang merupakan Fasilitas Umum (Fasum) milik pengembang dan digunakan bersama oleh seluruh penghuni perumahan, tiba-tiba diklaim secara sepihak sebagai tanah dan properti pribadinya.
“Jalan ini milik saya,” kira-kira begitulah narasi yang ia bangun. Bahkan, ia bertindak layaknya penjaga pos perbatasan antarnegara atau gerbang kerajaan pribadi.
Ia membuat aturan main sendiri yang sangat absurd: Setiap warga yang ingin menggunakan jalan tersebut wajib meminta izin kepadanya terlebih dahulu.
“Diedukasi Tetap Ngeyel”
Tentu saja, aturan “kerajaan” dadakan ini tidak diterima oleh akal sehat warga lainnya. Beberapa tetangga yang merasa dirugikan sebenarnya sudah berusaha bersikap baik dan memberikan penjelasan.
Mereka berusaha memberikan edukasi bahwa jalan tersebut adalah hak milik bersama, dibangun untuk kepentingan umum, dan bukan aset pribadi milik satu orang saja.
Namun sayangnya, nasihat dan penjelasan logis tersebut seolah masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Sang pelaku menutup mata dan telinga, tetap bersikeras mempertahankan egonya dan menganggap dirinya paling benar.
Netizen: Mau Punya Jalan Sendiri? Beli Pulang Aja!
Kejadian di Perumahan Sidokare ini menjadi bahan perbincangan hangat dan sekaligus pelajaran komedi bagi netizen. Banyak yang menyoroti bahwa hidup bertetangga itu butuh kesadaran diri yang tinggi dan rasa memiliki terhadap fasilitas bersama.
Mengklaim fasilitas umum sebagai milik pribadi dianggap sebagai tingkat “kehaluan” tertinggi dalam bermasyarakat.
“Buat yang ingin punya jalan aspal luas yang bebas hambatan dan bisa diatur-atur seenaknya, mungkin memang sudah saatnya tidak tinggal di perumahan. Lebih baik beli tanah luas di tengah hutan atau bahkan membeli pulau pribadi. Biar puas jadi raja tanpa mengganggu orang lain,” celetuk warganet.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kepemilikan bersama harus dijaga bersama, bukan direbut atau dikuasai oleh pihak yang merasa paling berkuasa.
(red)
