
Sidoarjo – Suasana perayaan Tradisi Nyadran tahunan di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, sempat mengalami ketegangan yang cukup tinggi dan nyaris berujung pada bentrokan fisik pada Minggu (8/2/2026) pagi. Peristiwa yang terjadi di tengah keramaian ribuan warga yang mengikuti acara adat tersebut membuat suasana yang awalnya penuh khidmat menjadi sedikit tegang sebelum akhirnya berhasil diredam.
Tradisi Nyadran di Desa Balongdowo sendiri merupakan acara tahunan yang sangat dinanti oleh masyarakat lokal, yang biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan untuk membersihkan makam leluhur, berbagi makanan bersama, serta mempererat tali silaturahmi antar warga. Tahun ini, acara yang dihelat di sekitar komplek makam kuno Desa Balongdowo diikuti oleh ratusan keluarga, bahkan juga dihadiri oleh beberapa generasi yang sudah pindah tinggal ke daerah lain namun kembali untuk menghadiri tradisi yang dianggap sakral tersebut.
Menurut informasi yang diperoleh dari saksi mata di lokasi kejadian, situasi mulai memanas sekitar pukul 10.30 WIB, ketika acara memasuki tahap pembagian makanan khas tradisional yang disiapkan oleh panitia. Di tengah keramaian yang cukup padat, terjadi perbedaan pandangan atau kesalahpahaman antara beberapa kelompok warga yang menyebabkan suasana menjadi memanas dan beberapa orang mulai menunjukkan tindakan yang kurang terkendali.
“Hingga saat ini, kronologi pasti terkait pemicu kejadian tersebut masih belum diketahui secara jelas. Ada beberapa versi cerita dari pihak-pihak yang terlibat, namun kami belum dapat memastikan mana yang menjadi akar permasalahan yang sebenarnya,” ujar Ketua Panitia Penyelenggara Nyadran Desa Balongdowo, Supriyono (55 tahun), saat memberikan keterangan setelah situasi kembali kondusif.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, situasi sempat menjadi sangat tegang dengan beberapa orang yang mulai saling bersitegang dan nyaris berujung pada baku hantam. Namun, sebelum kondisi menjadi semakin memburuk, tokoh masyarakat lokal yang berada di lokasi acara segera bergerak cepat untuk menenangkan kedua belah pihak. Dukungan juga datang dari seluruh anggota panitia yang bekerja sama untuk menjaga ketertiban dan memisahkan pihak-pihak yang sedang berseteru.
Tokoh masyarakat Desa Balongdowo, Kiai Muhammad Ichsan (68 tahun), yang menjadi salah satu orang yang berhasil meredam ketegangan, menyampaikan bahwa dalam tradisi Nyadran, rasa kebersamaan dan saling menghormati merupakan nilai utama yang harus selalu dijaga. “Kita berkumpul di sini bukan untuk bertengkar, melainkan untuk menyatukan hati dan mengingat jasa leluhur kita. Meskipun ada sedikit kesalahpahaman, kita harus bisa menyelesaikannya dengan cara yang damai dan penuh rasa kekeluargaan,” ujar Kiai Ichsan dengan nada yang menenangkan.
Setelah melalui proses penenangan dan komunikasi langsung antara pihak-pihak yang terlibat, suasana akhirnya kembali tenang dan acara adat dapat dilanjutkan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Para pelaku yang terlibat dalam kesalahpahaman juga telah saling memaafkan dan bersedia untuk menjaga keharmonisan di lingkungan masyarakat.
Panitia penyelenggara segera mengambil langkah antisipasi dengan meningkatkan pengawasan di seluruh area acara, serta mengajak seluruh warga untuk tetap menjaga suasana rukun dan khidmat. Pembagian makanan khas tradisional seperti lontong balap, tahu tek, dan es cendol pun dapat dilanjutkan dengan lancar, dan acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kiai Ichsan untuk memohon berkah serta ketenangan bagi seluruh masyarakat Desa Balongdowo.
Kepala Desa Balongdowo, Ahmad Zakaria, yang segera datang ke lokasi setelah mendapatkan informasi tentang kejadian, menyampaikan rasa terima kasih kepada tokoh masyarakat dan panitia yang telah cepat tanggap dalam menangani situasi tersebut. Menurutnya, kejadian ini menjadi pengalaman berharga bagi seluruh masyarakat untuk lebih memperkuat rasa persatuan dan menghargai perbedaan dalam setiap kegiatan yang diadakan.
“Kita sangat bersyukur bahwa situasi dapat segera diredam dan tidak menimbulkan korban apapun. Meskipun ada sedikit gangguan, namun acara tetap dapat berjalan dengan aman dan kondusif. Kedepannya, kita akan lebih memperhatikan aspek keamanan dan koordinasi dalam penyelenggaraan acara adat agar kejadian serupa tidak terulang lagi,” jelas Ahmad Zakaria.
Masyarakat Desa Balongdowo yang mengikuti acara juga menyampaikan harapan agar kejadian ini tidak mengurangi semangat dalam melestarikan tradisi Nyadran yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Banyak di antaranya yang menyatakan bahwa rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang terjalin selama acara jauh lebih berharga daripada masalah yang terjadi sesaat.
“Tradisi Nyadran adalah bagian dari identitas kita sebagai masyarakat Desa Balongdowo. Kita tidak akan biarkan satu kesalahpahaman menghancurkan nilai-nilai yang telah kita jaga bersama selama ini,” ujar salah satu warga yang mengikuti acara, Sri Wahyuni (42 tahun).
Perayaan Tradisi Nyadran di Desa Balongdowo akhirnya dapat berakhir dengan baik dan penuh makna. Pihak panitia dan tokoh masyarakat juga telah melakukan pertemuan setelah acara untuk mengevaluasi kejadian dan menyusun langkah-langkah pencegahan agar acara tahun depan dapat berjalan dengan lebih lancar dan penuh keharmonisan.
(red)
