KOMEDI TRAGIS DI SEKOLAH! Empat Pelajar SMP di Sungai Laur Viral Gegara Dugaan Pesta Narkoboy – Tes Urine NEGATIF, Ternyata Hisap Sabv Palsu dari Tawas/Garam/Tepung Biasa

Ungkap kasus hukum Nasional

Ketapang, 10 Februari 2026 – Dunia pendidikan di Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, sempat diguncang oleh aksi nekat empat pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang viral melalui video penggerebekan di media sosial. Warga yang memergoki aktivitas mencurigakan di dalam ruang kelas di luar jam belajar awalnya menduga mereka tengah menggelar pesta narkoboy, namun hasil penyelidikan polisi mengungkap fakta yang membuat publik geleng-geleng kepala – barang bubuk putih yang mereka konsumsi ternyata adalah sabv palsu berbahan tawas, garam, atau tepung biasa.

Video yang menyebar luas di platform media sosial memperlihatkan momen warga memasuki ruang kelas yang sepi untuk mengecek aktivitas sekelompok remaja yang diduga sedang melakukan kegiatan terlarang. Saat masuk, warga menemukan empat pelajar yang sedang berkumpul di bangku kelas 9 SMP tersebut. Di sekitar mereka ditemukan peralatan “tempur” khas pemakai narkoboy, seperti bong (alat hisap), pipet, plastik klip, dan korek api. Berdasarkan temuan tersebut, warga langsung menyimpulkan bahwa mereka sedang mengonsumsi sabv-sabv, yang kemudian memicu kemarahan publik terkait dugaan rusaknya moral pelajar di lingkungan sekolah.

Keempat siswa tersebut segera diamankan oleh petugas Polsek Sungai Laur dan kemudian dilimpahkan ke Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Ketapang untuk menjalani proses penyelidikan lebih lanjut. Untuk membuktikan dugaan penggunaan zat narkotika, pihak kepolisian membawa mereka ke Rumah Sakit Agusdjam untuk melakukan tes urine.

Kasat Narkoba Polres Ketapang, IPTU Dewa Made Surita, mengungkapkan hasil pemeriksaan yang mengejutkan – tes urine keempat siswa tersebut menunjukkan hasil NEGATIF (-). Tidak ditemukan kandungan amfetamin atau zat narkotika jenis lain di dalam tubuh mereka. “Setelah melakukan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh, tidak ada indikasi bahwa keempat pelajar ini mengonsumsi zat narkotika apapun. Hasil tes urine yang kami terima jelas menunjukkan nilai negatif,” jelas IPTU Dewa Made Surita dalam konferensi pers yang digelar di Mapolres Ketapang.

Di sinilah letak sisi komedi tragis dari kasus ini. Setelah melakukan pemeriksaan lebih mendalam dan menginterogasi keempat pelajar, polisi mengungkapkan alasan mengapa tes urine mereka negatif meskipun ditemukan alat hisap khas pemakai narkoboy. Ternyata, barang bubuk putih yang mereka beli dengan harga tertentu dan konsumsi dengan gaya yang menyerupai penggunaan sabv adalah barang palsu. Menurut keterangan keempat pelajar, mereka dibujuk oleh seseorang yang mengaku sebagai bandar bahwa barang tersebut adalah sabv asli yang dapat memberikan efek “terbang”, padahal setelah diperiksa oleh tim forensik, bahan yang mereka konsumsi hanya merupakan campuran tawas, garam, atau tepung biasa yang tidak memiliki efek apapun kecuali mungkin membuat mereka merasa tidak nyaman.

“Mereka mengaku telah keluar uang untuk membeli barang tersebut, dan merasa tertipu mentah-mentah oleh pengedar atau bandar yang menjualnya sebagai sabv asli. Keempat pelajar ini mengaku tidak mengetahui bahwa barang yang mereka dapatkan adalah palsu, dan hanya mengikuti apa yang diajarkan oleh orang yang menjualnya,” tambah IPTU Dewa Made Surita.

Karena tidak ditemukan bukti bahwa mereka mengonsumsi zat narkotika (karena barang yang digunakan adalah palsu), proses hukum pidana terkait perkara narkoba tidak dapat dilanjutkan terhadap keempat pelajar tersebut. Setelah melalui proses pemeriksaan dan pembinaan singkat, mereka dikembalikan kepada orang tua masing-masing dengan status sebagai anak yang memerlukan pembinaan. Namun, sebagai bentuk pengawasan dan pencegahan agar tidak mengulangi tindakan yang sama, keempat siswa dikenakan sanksi Wajib Lapor secara berkala ke Polsek Sungai Laur atau dinas pendidikan terkait untuk melaporkan perkembangan diri dan aktivitas mereka sehari-hari.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang yang menyampaikan tanggapan terkait kasus ini mengatakan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan kepolisian dan orang tua siswa untuk memberikan pembinaan yang intensif kepada keempat pelajar tersebut. “Kami menyayangkan apa yang telah terjadi, namun ini juga menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pelajar di Kabupaten Ketapang tentang bahaya mencoba hal-hal yang tidak jelas, terutama yang terkait dengan zat terlarang. Kami akan melakukan penyuluhan lebih masif di sekolah-sekolah untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang bahaya narkoba dan pentingnya menjaga moral serta fokus pada pendidikan,” ujarnya.

Kasus yang terjadi di Kecamatan Sungai Laur ini menjadi pelajaran telak bagi generasi muda. Seperti yang sering dikatakan masyarakat, niat hati ingin “terbang” dengan mengonsumsi barang terlarang justru membuat mereka jatuh tertimpa tangga – sudah rugi uang untuk membeli barang palsu, nama baik tercoreng, dan malu yang mungkin akan mereka rasakan seumur hidup. Namun, harapannya rasa malu tersebut dapat menjadi momentum bagi keempat pelajar untuk tobat, kembali fokus pada belajar, dan menjadi generasi yang bermanfaat bagi keluarga serta masyarakat.

Pihak kepolisian juga menegaskan bahwa mereka akan terus melakukan penyelidikan untuk menemukan pengedar atau bandar yang menjual sabv palsu tersebut, karena meskipun barang yang dijual bukan zat narkotika asli, tindakan tersebut tetap dapat dianggap sebagai penyalahgunaan kepercayaan dan dapat dikenai tindakan hukum sesuai peraturan yang berlaku.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!