DI BAWAH BAYANG-BAYANG ANCAMAN: RP 2 TRILIUN DAN GERTAKAN MILITER TAK GOYAHKAN JAKSA AGUNG ST BURHANUDDIN

Nasional

JAKARTA – Di ruang kerjanya yang hening, Jaksa Agung ST Burhanuddin memegang beban yang mungkin akan membuat orang biasa sulit bernapas. Bukan sekadar tumpukan berkas perkara yang menghadanginya, melainkan sebuah pertaruhan harga diri bagi institusi kejaksaan di tengah kepungan intimidasi yang datang dari berbagai arah. Baru-baru ini, publik dikejutkan oleh pengakuan blak-blakan pria berkumis tebal ini, yang mengungkapkan bahwa jalan yang ia tempuh dalam memberantas korupsi tidak hanya beraspal terjal, tapi juga dipenuhi ranjau yang siap menjerat siapa pun yang berani menginjakinya.

Bayangkan seorang petinggi hukum negeri didatangi oleh seseorang yang mengaku sebagai anggota militer, lalu mendapatkan ancaman yang terdengar seperti keluar dari skenario film aksi. “Jika keluarga saya tidak dibebaskan, saya luluhlantakkan gedung ini,” kenang Burhanuddin saat menirukan kalimat gertakan yang disampaikan oleh si pengancam beberapa waktu lalu.

Namun, alih-alih menunjukkan tanda panik atau segera memanggil pasukan pengamanan tambahan, Burhanuddin menjawab dengan sikap yang dingin dan tegas. Bagi pria yang telah menjabat sebagai Jaksa Agung ini, tembok-tembok beton yang menjadi struktur Gedung Kejaksaan Agung Republik Indonesia bukanlah sesuatu yang harus dijadikan sandaran untuk takut, melainkan hanya benda mati yang menjadi milik rakyat dan negara.

“Silakan saja, gedung ini punya rakyat, punya negara. Silakan kalau mau,” tantangnya balik dengan nada yang tidak bisa digoyahkan. Jawaban ini bukan sekadar sebuah bukti keberanian semata, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa institusi hukum tidak bisa dan tidak akan disandera oleh ancaman fisik dari siapapun.

Jika gertakan kekerasan tak mampu membelokkan langkahnya, musuh-musuh penegakan hukum tampaknya punya cara lain untuk mencoba menggagalkan upaya pemberantasan korupsi: rayuan materi yang tak tertandingi. Burhanuddin mengungkapkan bahwa ia pernah ditawari apa yang bisa disebut sebagai “tiket keluar” dari kasus-kasus yang sedang diusut, dengan nilai fantastis mencapai Rp 2 triliun. Sebuah angka yang cukup untuk mengubah hidup siapa pun dalam sekejap mata, bahkan bisa menjamin kenyamanan hidup hingga beberapa generasi ke depan.

Namun bagi Burhanuddin, angka besar itu bukanlah sebuah keberuntungan yang harus diterima dengan senang hati, melainkan sebuah noda hitam yang bisa dengan mudah menghapus seluruh jejak kerja dan integritas yang telah ia bangun selama bertahun-tahun. Ia memilih untuk tetap “membeku”—istilah yang ia sendiri gunakan untuk menggambarkan keteguhan hati dan tekadnya yang tak tergoyahkan saat menghadapi berbagai bentuk tekanan.

“Ini marwah kejaksaan dan marwah saya secara pribadi. Saya pantang untuk surut,” tegasnya dengan mata yang penuh keyakinan. Bagi dirinya, sejak pertama kali memutuskan untuk mengusut sebuah kasus, maka tidak akan ada jalan untuk berbalik arah atau mengambil jalan pintas, apa pun risiko yang harus diterima atau ancaman yang datang menghampiri.

Sisi paling humanis sekaligus paling tegas dari sosok Burhanuddin muncul ketika ia berbicara tentang hubungan keluarga dan batasan yang ia tetapkan dengan tegas. Banyak pejabat publik yang seringkali goyah dan rela melakukan berbagai cara ketika sanak saudara terseret dalam jeratan hukum, namun Burhanuddin sejak hari pertama dilantik sebagai Jaksa Agung sudah memasang batas yang tak bisa dilanggar.

Bahkan kepada saudaranya sendiri, TB Hasanuddin yang merupakan seorang politikus senior di negeri ini, ia sudah memberikan ultimatum yang jelas dan tegas: Jika suatu saat nanti sang saudara terbukti melakukan perbuatan pidana, jangan pernah berharap akan ada bantuan atau perlakuan istimewa dari sang Jaksa Agung.

Komitmen “tanpa pandang bulu” yang dipegang teguh ini menjadi fondasi utama bagi seluruh korps Adhyaksa untuk terus bergerak dan menjalankan tugas dengan integritas. Pengakuan terbuka dari Burhanuddin ini menjadi sebuah pengingat bagi seluruh publik bahwa di balik setiap kasus korupsi besar yang berhasil terungkap dan mendapatkan proses hukum yang layak, terdapat sebuah perang saraf yang terjadi di balik pintu tertutup—sebuah perang tanpa senjata antara integritas yang kokoh melawan berbagai bentuk intimidasi dan godaan yang datang dari berbagai pihak.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!