
SURABAYA – Suara hati dan tangisan para pedagang serta pencari nafkah di kawasan Pasar Karamenjangan kini terdengar lantang. Mereka memohon kebijaksanaan dan perhatian khusus dari pihak berwenang agar diberikan kelonggaran waktu dalam beraktivitas mencari rezeki.
Mereka berharap adanya toleransi jam operasional, setidaknya hingga pukul 09.00 pagi, agar mereka bisa bernapas lega dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga tanpa rasa takut dan tertekan.
“Jangan Dikejar-kejar Seperti Maling”
Dalam unek-unek dan aspirasi yang disampaikan, masyarakat mengekspresikan kekecewaan mendalam atas perlakuan yang sering mereka terima. Bagi mereka, apa yang dilakukan hanyalah upaya halal mencari sesuap nasi demi mengisi perut anak istri di rumah.
“Semoga amanah rakyat. Warga yang cari rejeki ini mohon diberi kelonggaran waktu. Tolong jangan dikejar-kejar, jangan diperlakukan seperti mengejar kawanan maling atau penjahat,” ucap salah satu warga dengan nada memilukan.
Mereka menegaskan bahwa apa yang dilakukan adalah usaha yang halal dan sah. Mereka bekerja keras, banting tulang, hanya untuk bertahan hidup. Perlakuan yang keras dan terburu-buru dirasa sangat menyakitkan dan tidak manusiawi.
Demi Sesuap Nasi, Ini Juga Bangsa Kita
Mereka mengimbau agar semua pihak bisa melihat realita di lapangan. Bahwa di balik aktivitas pagi hari itu, ada perjuangan hidup yang berat.
“Kami hanya mencari sesuap nasi demi perut. Tolong diperhatikan nasib kami, masyarakat kecil yang berjuang mencari nafkah. Ini juga bangsa kita, ini juga warga Surabaya yang ingin bekerja dengan layak,” tambahnya.
Warga berharap ada kebijakan yang berpihak kepada rakyat kecil. Mereka memohon agar diberikan waktu yang cukup, setidaknya sampai jam 9 pagi, agar mereka bisa menyelesaikan transaksi dan aktivitas jual beli dengan tenang, tanpa rasa was-was atau ketakutan akan diusir secara kasar.
Harapan Adanya Kemanusiaan dan Kebijaksanaan
Harapan besar mereka sederhana: Keadilan dan Kemanusiaan.
Mereka berdoa semoga pemimpin dan pihak berwenang bisa membuka mata hati, memahami kondisi ekonomi masyarakat yang masih sulit, dan memberikan kelonggaran waktu yang mereka minta. Karena bagi mereka, mencari rezeki itu hak setiap manusia, dan layak diperlakukan dengan hormat, bukan seperti penjahat.
