DARI ANAK BURUH CUCI YANG DIOLAK-ALIK, KINI LETKOL LAUT HARIONO JADI NAKHODA KAPAL PERANG

TNI-Polri nasional

MALANG – Perjalanan hidup seringkali penuh dengan teka-teki dan ujian. Tidak ada yang bisa menjamin kesuksesan hanya dari latar belakang atau status sosial. Bukti nyata itu terlihat dari sosok Letnan Kolonel Laut (P) Hariono, yang kini berdiri gagah sebagai seorang perwira tinggi dan Komandan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI).

Di balik seragam cokelat kebanggaan dan pangkat yang disandangnya, tersimpan kisah perjuangan yang sangat mengharukan dan menginspirasi. Ia adalah putra dari seorang ibu buruh cuci dan almarhum ayah sopir angkot, yang tumbuh di rumah bambu sederhana di wilayah Donomulyo, Malang, Jawa Timur.

Mimpi Besar dari Rumah Bambu

Lahir dan besar dalam keterbatasan ekonomi bukan berarti mimpi harus ikut mati. Sejak duduk di bangku SMA, Hariono sudah memiliki tekad kuat untuk mengubah nasib keluarganya. Inspirasi datang ketika melihat kakak kelasnya yang berhasil menjadi tentara.

Kekaguman itu berubah menjadi api semangat yang tak pernah padam. Meski orang tuanya sempat ragu dan khawatir melihat kondisi ekonomi yang pas-pasan, Hariono yakin bahwa usaha dan doa akan mampu membolak-balikkan takdir.

“Kondisi keluarga yang jauh dari kata cukup tidak menyurutkan langkahnya. Ia percaya masa depan bisa diubah melalui kerja keras,” demikian catatan perjalanan hidupnya.

Berkali-kali Ditolak, Namun Tak Pernah Menyerah

Jalan menuju kesuksesan ternyata tidak langsung terbuka lebar. Setelah lulus SMA, dunia seakan menutup pintu demi pintu di hadapannya. Dalam upaya membantu ekonomi keluarga, ia sempat mencoba melamar pekerjaan serabutan.

Melamar menjadi office boy, hasilnya ditolak. Mencoba peruntungan sebagai kasir, kembali gagal. Berkali-kali menghadapi penolakan, namun Hariono tidak membiarkan keputusasaan menguasai dirinya. Ia menganggap setiap kegagalan hanyalah proses pendewasaan.

Keteguhan hatinya untuk menjadi tentara pun diuji berkali-kali. Ia pernah gagal saat mendaftar Akabri. Tidak putus asa, ia mencoba jalur lain, mulai dari Tamtama Kopassus hingga Bintara Darat, namun hasilnya belum juga berpihak padanya.

Namun, justru dari kegagalan-kegagalan itulah mental baja Hariono ditempa. Ia tidak mundur, justru semakin terpacu untuk membuktikan dirinya layak.

Sukses di TNI AL, Menjadi Komandan KRI

Hingga akhirnya, kesempatan emas itu datang. Hariono berhasil lolos seleksi dan diterima sebagai Calon Prajurit Taruna di Akademi Angkatan Laut (AAL).

Ia resmi dilantik menjadi Letnan Dua pada tahun 1997 dan menyelesaikan pendidikan pada tahun 2000. Sejak saat itu, karier militernya terus menanjak naik dengan gemilang.

Dedikasi dan kemampuan kepemimpinannya diakui oleh atasannya. Hariono dipercaya memegang komando strategis, mulai dari menjadi Komandan KRI Teluk Mandar-514, hingga akhirnya dipercaya menjadi Nakhoda bagi kapal perang yang lebih besar dan vital, yaitu KRI Makassar-590.

Posisi ini bukan sekadar jabatan, melainkan bukti nyata kepercayaan negara terhadap kemampuan anak desa yang dulunya sering ditolak kerja ini.

Pesan Orang Tua yang Menjadi Kompas Hidup

Di balik kesuksesannya yang luar biasa, ada dua pesan sakti dari orang tua yang selalu ia pegang teguh hingga kini menjadi fondasi karakternya.

Dari sang ayah yang telah tiada, ia mewarisi kalimat bijak penuh filosofi Jawa:

“Eling, ati-ati lan waspodo”
(Ingat, berhati-hati, dan selalu waspada)

Pesan ini mengajarkannya bahwa hidup ini sementara, sehingga setiap langkah harus dijalani dengan penuh tanggung jawab, kesadaran, dan kehati-hatian.

Sementara dari sang ibu, buruh cuci yang hebat itu, ia mendapatkan nasihat yang sangat tegas soal integritas:

“Jika kelak punya jabatan, jangan pernah tergoda korupsi.”

Nasihat inilah yang menjaganya tetap bersih, jujur, dan menjadi perwira yang dicintai bawahannya serta dihormati atasannya. Kejujuran baginya adalah harga mati, tak peduli dari mana asal usulnya.

Inspirasi Bagi Generasi Muda

Kisah Letkol Laut Hariono adalah bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah tembok penghalang untuk meraih mimpi. Dari seorang pemuda yang berkali-kali ditolak kerja dan gagal seleksi, kini ia berdiri tegak sebagai penjaga samudra Indonesia.

“Ini adalah kisah tentang keteguhan hati, keberanian bangkit dari kegagalan, dan kekuatan doa orang tua yang mengiringi setiap langkah,” tulisnya.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!