
JAKARTA – Kisah yang berasal dari pinggiran kota Jakarta bukanlah tentang kasus kejahatan besar seperti perampokan atau penipuan, melainkan tentang mimpi sederhana seorang pria yang berakhir dengan situasi yang menyakitkan hati. Di sebuah kampung kumuh di ibu kota, hiduplah seorang pria bernama Surya (45 tahun), seorang pemulung yang setiap hari berjalan kaki menyusuri jalanan untuk mengumpulkan botol plastik dan kardus bekas yang kemudian dijual ke pengepul. Penghasilannya yang tak menentu hanya rata-rata tidak lebih dari seratus ribu rupiah per hari, namun ia menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga setelah istrinya meninggal karena sakit yang tak mampu diobati.
Surya memiliki seorang anak perempuan bernama Rina yang terpaksa putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya pendidikannya. Namun, pria yang tubuhnya kurus dan selalu mengenakan pakaian seadanya itu tak pernah berhenti bermimpi. Ia bercita-cita agar suatu hari nanti bisa melihat Rina kembali mengenakan seragam sekolah dan mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Menabung dari Koin Receh Selama Sepuluh Tahun
Semua bermula dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Setiap kali mendapatkan uang kembalian berupa koin Rp500 atau Rp1.000, Surya tidak pernah membelanjakannya. Ia menyimpannya dengan hati-hati dalam galon air mineral bekas yang ditemukannya di tempat sampah. “Uang kecil ini seperti biji. Kalau dikumpulkan, lama-lama jadi besar,” pernah gumamnya saat memasukkan koin ke dalam galon.
Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun berlalu, Surya tetap konsisten menabung. Ia rela menahan keinginan untuk membeli rokok atau makanan yang lebih enak hanya untuk bisa memasukkan satu atau dua koin lagi ke dalam galon. Suara denting koin yang jatuh ke dalam galon menjadi pengingat baginya bahwa setiap koin adalah langkah kecil menuju masa depan yang lebih baik bagi anaknya.
Setelah sepuluh tahun berlalu, galon pertama penuh dengan koin. Tak berhenti sampai di situ, ia terus menabung hingga akhirnya memiliki genap sepuluh galon yang penuh dengan koin receh. Galon-galon itu disimpan rapi di dalam gubuknya, tersembunyi di bawah tempat tidur dan tumpukan barang bekas yang ia kumpulkan. Menurut perhitungannya sendiri, setiap galon berisi sekitar lima juta rupiah, menjadikan total tabungannya mencapai kurang lebih lima puluh juta rupiah—jumlah yang bagi seorang pemulung seperti Surya terasa seperti harta karun. Mimpi yang Retak Saat Ingin Menukarkan Koin
Suatu pagi yang cerah, Surya datang dengan tekad bulat ke depan kantor cabang Bank Rakyat Indonesia (BRI) membawa kesepuluh galon koin tersebut. Ia menulis sebuah papan kardus yang kemudian ditempelkan pada salah satu galon: “Jual Galon Isi Koin – 1 Juta/Galon.” Ia berpikir, jika setiap galon sebenarnya berisi sekitar lima juta rupiah, menjualnya dengan harga satu juta rupiah saja akan membuatnya cepat laku dan uang yang diperoleh bisa langsung digunakan sebagai modal untuk memulai hidup baru serta mendaftarkan Rina kembali ke sekolah.
Beberapa orang yang lewat berhenti untuk melihat, ada yang tertawa, ada yang penasaran, bahkan sebagian mulai bertanya-tanya tentang galon berisi koin tersebut. Pada saat itu, harapan Surya tampak begitu nyata. Ia membayangkan bisa membeli rumah kecil yang lebih layak dan melihat wajah senyum Rina saat mengenakan seragam sekolah kembali.
Namun, harapan itu cepat sirna. Tak lama kemudian, petugas keamanan bank menghampirinya dan meminta penjelasan. Setelah beberapa saat, polisi dipanggil ke lokasi. Surya diminta untuk menjelaskan asal-usul uang koin yang ia bawa tersebut. Situasi menjadi tegang dan akhirnya kesepuluh galon itu diamankan oleh pihak berwenang untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kabar tentang seorang pemulung yang membawa puluhan juta rupiah dalam bentuk koin dan menjualnya di depan bank menyebar dengan cepat di sekitar lokasi kejadian. Antara Aturan yang Ada dan Ketidaktahuan Masyarakat
Secara hukum, menabung uang koin bukanlah tindakan yang bersifat kriminal. Uang logam tetap merupakan alat pembayaran yang sah menurut peraturan yang berlaku. Namun, aktivitas berjualan uang secara terbuka di trotoar depan bank serta dugaan potensi pelanggaran aturan administratif telah memicu kecurigaan aparat penegak hukum.
Bagi Surya, semua aturan dan prosedur yang berlaku terlalu rumit untuk dipahami. Ia hanya tahu satu hal: setiap koin yang dikumpulkannya adalah hasil jerih payahnya dan semuanya dilakukan dengan niat baik untuk menyelamatkan masa depan anaknya. Di dalam ruang pemeriksaan kantor polisi, Surya terduduk lemas dengan wajah penuh keprihatinan. Tak lama kemudian, Rina datang menjenguknya dengan mata merah karena menangis. “Ayah cuma nabung, Nak…” ucapnya dengan suara lirih saat melihat anaknya.
Pelajaran dari Kisah yang Mengingatkan
Kisah perjuangan Surya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa niat baik saja tidak selalu cukup. Pentingnya pengetahuan tentang aturan yang berlaku, akses terhadap layanan keuangan yang sesuai, serta adanya pendampingan bagi masyarakat berpenghasilan rendah sangat diperlukan.
Jika sejak awal Surya mengetahui bahwa ia bisa menukarkan koin secara resmi melalui kantor bank atau membuka rekening tabungan untuk menyimpan hasil tabungannya, mungkin kisahnya tidak akan berakhir dengan ia harus berada di kantor polisi. Di balik cerita yang menyentuh hati ini, terdapat pesan yang sangat penting: literasi keuangan bukanlah hak eksklusif bagi orang yang berada atau memiliki pekerjaan formal. Ia adalah kebutuhan dasar bagi semua lapisan masyarakat—termasuk mereka yang mengumpulkan harapan masa depan dari setiap koin receh yang diperoleh dengan susah payah.
